
Pengusaha Garibaldi Thohir atau Boy Thohir membagikan filosofi suksesnya: kesempatan besar dalam hidup tidak perlu datang berkali-kali. “You only need to hit sekali dua kali jackpot in your lifetime , (kamu hanya perlu mendapatkan kemenangan besar satu atau dua kali saja seumur hidupmu),” ungkapnya. Menurutnya, satu atau dua peluang strategis saja sudah cukup untuk mengubah arah karir seseorang secara signifikan.
Perjalanan bisnis Boy dimulai pada 2005 ketika dia dan Benny Subianto membeli 49 persen saham PT Adaro Indonesia melalui perusahaan bernama PT Alam Tri Abadi. Transaksi pembelian dari New Hope Corporation dan MEC Indocoal itu senilai 378 juta dolar AS. Boy memanfaatkan skema leveraged buyout (LBO)—sebuah strategi pembelian perusahaan dengan pendanaan utang—untuk melakukan akuisisi tersebut.
Tiga tahun kemudian, tepatnya 2008, perusahaan batubara itu go public di Bursa Efek Indonesia. Adaro Energy menawarkan 11,14 miliar saham dengan harga Rp 1.100 per lembar dan berhasil menghimpun dana sekitar Rp 12,25 triliun. Langkah IPO ini bukan hanya strategi ekspansi, tetapi juga cara Boy mengurangi beban utang yang ditanggung perusahaan.
Boy menjelaskan bahwa akumulasi kekayaan dari skema ini sangat mengesankan jika dihitung dengan cermat. “Kalau kamu pakai kalkulator deret ukur, tidak kehitung modalnya Rp 10 miliar, kita IPO, beli Adaro, kita IPO-in lagi, semua very transparent , tapi berapa akumulasi wealth -nya?” katanya, menunjukkan bagaimana modal awal yang relatif kecil bisa berkembang melalui transaksi strategis.
Selain berbagi strategi bisnis, Boy juga menekankan pentingnya etika dan integritas dalam setiap langkah perjalanan bisnis. Dia percaya bahwa kesempatan datang kepada mereka yang menjalani kehidupan dengan baik dan benar serta disertai kepercayaan pada Tuhan. “Sudah jalanin saja hidup kalian secara baik dan benar. Ikutin prosesnya itu semua,” pesannya kepada generasi muda yang ingin meniru suksesnya.
Pengalaman Boy dengan Adaro menjadi bukti nyata bahwa kombinasi strategi finansial yang tepat, pemanfaatan peluang, dan integritas bisnis bisa menghasilkan pertumbuhan eksponensial. Melalui kisah ini, dia ingin menunjukkan bahwa kesuksesan besar tidak selalu membutuhkan modal fantastis, tetapi membutuhkan kejelian melihat momen dan konsistensi dalam menjalani proses bisnis yang transparan.
Sumber: Republika
Baca Juga

Wilmar Raih Laba Rp4,7 Triliun, Tapi Laba Inti Justru Turun 25 Persen

Data Statistik Tunjukkan Kebakaran Lahan dan Perluasan Sawit Tak Punya Hubungan Kausal

PTPN IV Lepaskan 60 Ribu Bibit Ikan ke Sungai Riau, Jaga Ekosistem Sekaligus Dukung Pangan Lokal

