
Wilmar International, perusahaan agribisnis raksasa berbasis Singapura dengan operasi besar di perkebunan sawit Indonesia, berhasil menutup kuartal ketiga 2026 dengan laba bersih 281 juta dolar AS atau setara Rp4,7 triliun. Angka ini terlihat memukau karena kontras dengan kerugian 347,7 juta dolar AS pada periode sama tahun lalu.
Namun di balik angka tersebut, ada cerita yang lebih rumit. Kerugian tahun lalu terjadi lantaran Wilmar mengeluarkan kompensasi besar 712,3 juta dolar AS kepada pemerintah Indonesia. Ketika kompensasi satu kali itu tidak dihitung, laba Wilmar di kuartal III 2026 justru mengalami penurunan, dari 364,6 juta dolar AS menjadi 281 juta dolar AS atau turun 22,9 persen.
Performa perusahaan didukung terutama dari lini bisnis minyak tropis dan perkebunan kelapa sawit. Wilmar menyatakan bisnisnya memanfaatkan peningkatan volume produksi dan stabilnya harga minyak sawit di pasar global.
Kemajuan finansial Wilmar berlangsung di tengah tekanan regulasi. Otoritas Singapura, lewat Badan Lingkungan Nasional (NEA), mengirim pemberitahuan kepada 10 perusahaan berbasis Singapura termasuk Wilmar pada 23 Oktober. Pemberitahuan itu berkaitan dengan kemungkinan keterlibatan mereka dalam kebakaran lahan di Indonesia yang menyebabkan kabut asap lintas batas.
Regulator pasar modal Singapura juga meminta Wilmar menjelaskan kebijakan pencegahan dan penanganan kebakaran, serta pengaruh kebakaran terhadap operasional bisnis mereka. Permintaan informasi ini tidak secara otomatis membuktikan Wilmar sebagai penyebab kebakaran.
Dalam pengungkapan terpisah, Wilmar mengakui kepolisian Indonesia sedang menyelidiki kebakaran yang menghancurkan sekitar 28 hektare lahan perkebunan milik anak perusahaannya di Kalimantan Barat. Berdasarkan pemeriksaan internal, Wilmar menyatakan api berasal dari luar batas konsesi atau area yang tidak ditanami, termasuk lahan kelola masyarakat.
Perdebatan terhadap Wilmar turut dipengaruhi oleh isu perdagangan sawit Indonesia ke Israel. Data Kementerian Pertanian mencatat ekspor sawit Indonesia ke Israel pada 2023 sebesar 29.605 ton, menurun menjadi 19.487 ton pada 2025. Penelitian dari Universitas Widyatama menemukan Indonesia memasok rata-rata 71,1 persen dari total impor minyak sawit mentah Israel sepanjang 2020-2025.
Meski demikian, data perdagangan bilateral tidak menunjukkan secara spesifik perusahaan mana yang terlibat, siapa pembeli akhirnya, atau rute pengiriman sebenarnya. Penekanan pada Wilmar sebagai pemain besar di industri sawit Indonesia membuat perusahaan ini menjadi fokus perhatian dalam berbagai isu lingkungan dan perdagangan global yang kompleks.
Sumber: Republika
Baca Juga

Data Statistik Tunjukkan Kebakaran Lahan dan Perluasan Sawit Tak Punya Hubungan Kausal

PTPN IV Lepaskan 60 Ribu Bibit Ikan ke Sungai Riau, Jaga Ekosistem Sekaligus Dukung Pangan Lokal

Brand Lokal Butuh Inovasi dan Platform Digital untuk Rebut Pasar yang Lebih Luas

