Orang Kaya Indonesia Tak Lagi Hanya Kejar Untung, Kini Fokus Jaga Warisan Bisnis untuk Anak Cucu

Orang Kaya Indonesia Tak Lagi Hanya Kejar Untung, Kini Fokus Jaga Warisan Bisnis untuk Anak Cucu

Memiliki banyak aset ternyata belum cukup bagi para pengusaha dan individu berduit di Indonesia. Kini mereka justru lebih memikirkan bagaimana bisnis dan kekayaan yang sudah dibangun bisa bertahan dan dinikmati oleh generasi berikutnya.

Tren ini diamati oleh perusahaan asuransi AIA Indonesia, yang melihat perubahan pola pikir pada nasabah segmen HNW — singkatan dari high net worth individual, yaitu sebutan untuk orang-orang dengan aset sangat besar. Mereka kini lebih memprioritaskan keberlanjutan bisnis, kebebasan finansial, kesehatan, dan persiapan pensiun yang nyaman.

“Tujuan utama mereka tidak lagi semata-mata mengejar pertumbuhan aset. Business continuity, financial freedom, health and well-being, serta comfortable retirement menjadi bagian dari prioritas utama dalam perjalanan finansial mereka,” kata Presiden Direktur AIA Indonesia Harsya Wardhana Prasetyo saat peluncuran produk Wealth Prestige Protection di Jakarta, Jumat.

Data dari Agility Wealth Lengths 2026 Indonesia Report yang dikutip AIA menunjukkan bahwa 94 persen responden dari kelompok HNW sudah menyiapkan rencana suksesi — termasuk mereka yang masih di usia produktif. Rencana itu bukan cuma soal uang, tapi juga menyangkut kelangsungan bisnis dan kekayaan keluarga.

AIA juga menemukan bahwa masih ada celah perlindungan di kalangan orang-orang beraset tinggi ini, terutama soal proteksi bisnis dan kekayaan keluarga. Artinya, banyak yang sudah kaya tapi belum tentu sudah terlindungi dengan baik.

Merespons kebutuhan itu, AIA bersama BCA meluncurkan produk bernama Prestige Pro — sebuah solusi yang menggabungkan perlindungan asuransi dengan perencanaan warisan dan pengelolaan kekayaan sekaligus. Produk ini tersedia dalam denominasi dolar AS, melengkapi versi rupiah yang sudah lebih dulu diluncurkan.

Dari sisi perbankan, Managing Director of Consumer Banking BCA Haryanto Budiman mencatat bahwa aset yang dikelola BCA dalam bentuk obligasi pemerintah dan reksa dana melonjak dari sekitar Rp139 triliun pada 2022 menjadi sekitar Rp339 triliun pada Juni 2026 — pertumbuhan yang mencerminkan meningkatnya minat masyarakat terhadap produk investasi dan proteksi di semua segmen.

Bagi pelaku UMKM dan pemilik bisnis lokal yang sedang tumbuh, tren ini menjadi sinyal penting: membangun bisnis saja tidak cukup, menyiapkan perlindungan dan rencana keberlanjutannya sejak dini adalah bagian dari strategi bisnis yang matang.

Sumber: Antara News

Baca Juga

Scroll to Top