
Penambahan armada KRL Jabodetabek ternyata belum berjalan mulus. Dari target 35 trainset atau rangkaian kereta yang sudah dianggarkan negara sejak 2023, baru 27 trainset yang masuk dalam rencana penyelesaian hingga 2027 — masih kurang delapan rangkaian.
Pemerintah lewat Kementerian Perhubungan (Kemenhub) sudah menggelontorkan dana suntikan modal negara atau PMN senilai Rp9,53 triliun kepada PT KAI secara bertahap. Dana itu khusus untuk pengadaan 35 trainset KRL Jabodetabek plus dua peremajaan armada lama. Sampai Oktober 2026, sebanyak 11 trainset baru dari China sudah datang dan beroperasi.
Sisanya, 16 trainset dikerjakan oleh PT INKA — produsen kereta dalam negeri. Dari jumlah itu, tujuh rangkaian yang sempat bermasalah sudah kembali beroperasi. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menjelaskan, dua trainset ditargetkan rampung akhir tahun ini, dan tujuh lagi baru akan selesai pada 2027.
“Ada harapan supaya dapat segera terpenuhi. INKA ini memproduksi butuh waktu, kalau dilihat rata-rata (produksi) INKA per tahun itu tiga trainset,” kata Dudy.
Soal kekurangan delapan trainset, Kemenhub mendorong KAI untuk tetap memenuhi seluruh target yang sudah disepakati. “Kita mendorong supaya KAI bisa memenuhi kekurangannya dengan penuhi dulu pengadaan yang sudah disetujui pada 2023 sebanyak 35 (trainset). Kita juga harus pastikan kelaikan dan aspek keselamatannya,” ujar Dudy.
Di sisi lain, opsi impor KRL baru maupun bekas dari Jepang masih dikaji oleh Danantara — lembaga investasi negara yang juga menaungi BUMN. Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, menegaskan kajian impor ini tidak berarti produksi INKA diabaikan, mengingat kapasitas produksi INKA memang masih terbatas dan sedang dalam proses pembenahan.
Dengan berbagai opsi yang masih dibahas antar kementerian dan lembaga terkait, kelancaran transportasi sehari-hari jutaan warga Jabodetabek kini bergantung pada seberapa cepat semua pihak bisa menyelesaikan komitmen yang sudah dibuat.
Sumber: Republika




