
Pemerintah Indonesia merencanakan modernisasi 4.582 kapal perikanan dalam periode 2026–2029. Program ini bukan sekadar menambah jumlah armada, tetapi diharapkan menjadi peluang emas untuk memperkuat kemampuan industri galangan kapal dalam negeri dan membuka lapangan kerja di masyarakat pesisir.
Dari target tersebut, 1.582 kapal akan dibangun melalui kerja sama dengan Inggris yang melibatkan perusahaan Babcock International, sementara 3.000 kapal lainnya ditangani oleh PT Agrinas Jaladri Nusantara. Pembagian tugas ini mencerminkan komitmen pemerintah untuk melibatkan industri lokal dalam proyek besar ini.
Para pembuat kebijakan menekankan bahwa kesuksesan program tidak hanya bergantung pada besarnya investasi. Boy Rubyanto, Wakil Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember, menyatakan: “Keberhasilan program pembangunan ributan kapal perikanan nasional tidak hanya ditentukan oleh investasi dan teknologi, tetapi oleh sinergi nyata antara pemerintah, industri, perguruan tinggi, dan pelaku usaha untuk membangun kapasitas nasional yang berkelanjutan.”
Transfer teknologi perkapalan dan peningkatan penggunaan komponen buatan dalam negeri menjadi kunci untuk membuat industri galangan kapal Indonesia lebih mandiri dan kompetitif. Marsda TNI Dedy Laksmono dari Kementerian Pertahanan menekankan bahwa kolaborasi lintas pemangku kepentingan adalah langkah strategis menuju kemandirian maritim.
Selain pembangunan kapal, program ini juga mengintegrasikan teknologi digital untuk mengelola armada, logistik, dan rantai pasok. Sistem AQUILA (Agrinas Intelligence & Logistic Architecture) menggabungkan kecerdasan buatan, analisis data, dan blockchain untuk meningkatkan efisiensi serta membantu produk perikanan Indonesia masuk ke pasar internasional dengan transparansi lebih baik.
Dengan pendekatan holistik yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, dan industri lokal, program modernisasi kapal perikanan ini berpotensi menjadi katalis pengembangan ekonomi maritim yang berkelanjutan dan meningkatkan daya saing industri perkapalan nasional di tingkat global.
Sumber: Republika
Baca Juga

Wilmar Raih Laba Rp4,7 Triliun, Tapi Laba Inti Justru Turun 25 Persen

Data Statistik Tunjukkan Kebakaran Lahan dan Perluasan Sawit Tak Punya Hubungan Kausal

PTPN IV Lepaskan 60 Ribu Bibit Ikan ke Sungai Riau, Jaga Ekosistem Sekaligus Dukung Pangan Lokal

