
PT Barito Pacific Tbk (BRPT), sebuah perusahaan besar di bidang kimia dan energi, berhasil meningkatkan pendapatannya secara signifikan pada sembilan bulan pertama tahun 2026. Pendapatan perseroan naik menjadi 8,69 miliar dolar AS, melampaui angka 5,56 miliar dolar AS yang dicatat setahun sebelumnya—pertumbuhan sebesar 56,3 persen.
Lonjakan kinerja ini didorong utamanya oleh divisi petrokimia (industri kimia berbasis minyak bumi) yang menghasilkan 8,19 miliar dolar AS dari total pendapatan. Sisa pendapatan berasal dari sektor energi sebesar 501 juta dolar AS dan unit usaha lainnya senilai 4 juta dolar AS. Pencapaian ini terjadi meski pasar global dihadapkan pada ketidakpastian geopolitik dan fluktuasi harga energi.
Presiden Direktur Agus Pangestu menerangkan bahwa kesuksesan tersebut menunjukkan ketangguhan bisnis mereka. “Di tengah dinamika tersebut, portofolio Barito Pacific Group yang terdiversifikasi di sektor Energi, Kimia, dan Infrastruktur terus menunjukkan ketahanan serta menopang pertumbuhan kinerja Grup secara keseluruhan,” ungkapnya.
Dari sisi keuangan, perusahaan mencatatkan laba bersih 616 juta dolar AS dan EBITDA (ukuran kesehatan keuangan operasional) sebesar 1,405 miliar dolar AS. Rasio utang bersih terhadap ekuitas tercatat 0,77 kali, memberi ruang finansial untuk melanjutkan investasi pengembangan jangka panjang.
Barito Pacific terus memperkuat pertumbuhan melalui anak usaha Chandra Asri Group yang mengembangkan tiga pilar bisnis: energi dan kimia, infrastruktur terintegrasi, dan solusi mobilitas. Perusahaan juga mengoptimalkan koordinasi operasional antara aset di Indonesia dan Singapura untuk meningkatkan daya saing regional.
Di bidang energi terbarukan, anak usaha PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) melanjutkan pengembangan pembangkit listrik panas bumi (PLTP). Pada Oktober 2026, selesai retrofit PLTP Darajat Unit 3 yang menambah kapasitas 8,55 megawatt, sehingga total kapasitas panas bumi mereka mencapai 935,55 megawatt.
Target perusahaan adalah melampaui kapasitas panas bumi 1 gigawatt pada akhir 2026. Sementara itu, proyek Chlor-Alkali dan Ethylene Dichloride (CA-EDC) di Indonesia telah mencapai 80 persen konstruksi dan dijadwalkan masuk fase pengujian operasional pada 2027.
Agus menekankan komitmen untuk melanjutkan investasi strategis sambil menjaga kedisiplinan keuangan dan manajemen risiko. Diversifikasi portofolio bisnis menjadi kunci mempertahankan pertumbuhan di tengah perubahan kondisi pasar global yang dinamis dan penuh tantangan.
Sumber: Republika




