Drone Lokal Baru Capai 66% Komponen Dalam Negeri, Baterai Masih Andalkan Impor

Drone Lokal Baru Capai 66% Komponen Dalam Negeri, Baterai Masih Andalkan Impor

Industri drone buatan anak bangsa masih sangat bergantung pada komponen impor meskipun sudah berhasil menggenjot tingkat komponen dalam negeri (TKDN) hingga 66 persen. Persoalannya, bagian-bagian krusial seperti baterai, motor listrik, dan baling-baling belum bisa diproduksi optimal di tanah air, sehingga tetap harus didatangkan dari luar.

Frogs Indonesia, salah satu produsen drone lokal, menghadapi tantangan nyata dalam mengembangkan bisnis. Perusahaan yang membuat drone untuk pemetaan lahan, pengawasan, penyemprotan pertanian, dan pengangkutan barang ini mencatat penjualan turun signifikan—hampir 60 persen di 2026 dibanding tahun sebelumnya, dengan proyeksi penjualan hanya 130 unit untuk berbagai jenis drone.

Adhitya Chandra, CEO Frogs Indonesia, menerangkan bahwa pasar yang besar menjadi kunci utama pengembangan industri lokal. “Suatu industri itu akan berjalan dengan baik jika market-nya ada. Kalau market-nya itu tidak ada, ya kami tidak akan bisa mencetak volume yang banyak,” ujarnya. Menurutnya, dengan volume produksi yang lebih besar, biaya dapat ditekan untuk bersaing dengan drone impor yang lebih murah.

Peluang pasar sebenarnya terbuka lebar dari sektor pertanian. Program cetin sawah pemerintah membutuhkan lebih dari 7.000 unit drone untuk pemetaan dan penyemprotan pupuk serta pestisida. Jika permintaan ini terealisasi, produsen lokal bisa memperbesar skala produksi dan pada gilirannya mengembangkan pemasok komponen dalam negeri.

Pemerintah sendiri sedang mendorong peningkatan TKDN untuk kendaraan listrik secara umum. Target ditetapkan mulai dari 40 persen pada 2026, naik menjadi 60 persen pada 2027-2029, dan mencapai 80 persen sejak 2030. Strategi ini mencerminkan upaya bertahap untuk tidak hanya mengurangi ketergantungan impor, tetapi juga membangun ekosistem manufaktur komponen yang kokoh di dalam negeri.

Kesuksesan penguatan TKDN membutuhkan dukungan lebih dari sekadar target angka. Dibutuhkan pasar yang memadai, investasi berkelanjutan, pengembangan sumber daya manusia, serta insentif jangka panjang dari pemerintah. Dengan strategi holistik ini, industri komponen lokal diharapkan dapat tumbuh seiring meningkatnya permintaan produk manufaktur nasional.

Sumber: Republika

Baca Juga

Scroll to Top