
Program hilirisasi Indonesia menarik investasi besar mencapai Rp300,1 triliun pada semester pertama 2026, jumlah yang merepresentasikan hampir 30 persen dari total investasi nasional. Namun angka besar itu saja tidak cukup menjadi ukuran kesuksesan, demikian penilaian dari kalangan akademisi yang mengamati implementasi kebijakan ini di lapangan.
Sarlina Sari, akademisi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bina Sarana Informatika, mengatakan ada kekhawatiran investasi hanya terkonsentrasi di perusahaan besar tanpa menyentuh ekonomi rakyat. Dia menekankan bahwa hilirisasi—proses mengubah bahan baku menjadi produk jadi—perlu membuka lapangan kerja lebih luas dan mendorong transfer teknologi ke industri dalam negeri.
Pemerintah baru-baru ini meluncurkan 11 proyek industri di Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) di Maluku Utara dengan nilai investasi sekitar Rp180 triliun. Proyek-proyek ini meliputi industri baterai, nikel, aluminium, dan energi surya yang diproyeksikan menciptakan lebih dari 10.000 pekerjaan. Namun, empat proyek baru memasuki tahap komersial sementara tujuh lainnya masih dalam tahap pembangunan.
“Saya mengapresiasi langkah Presiden Prabowo Subianto yang terus mendorong hilirisasi sebagai bagian dari transformasi ekonomi nasional. Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang besar, dan tantangannya adalah bagaimana mengolah kekayaan tersebut menjadi produk bernilai tambah tinggi, memperkuat industri nasional, serta menciptakan lapangan kerja yang berkualitas bagi masyarakat,” ujar Sarlina.
Menurut akademisi ini, kesuksesan sejati diukur dari kemampuan investasi membangun ekosistem industri yang kokoh—bukan sekadar membangun fasilitas pabrik. Dia menekankan pentingnya kolaborasi antara industri besar dengan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar manfaat ekonomi tersebar merata ke seluruh lapisan masyarakat.
Sarlina juga menggarisbawahi peran institusi pendidikan dan pemerintah daerah dalam menyiapkan tenaga kerja yang sesuai kebutuhan industri. “Investasi yang berkualitas adalah investasi yang memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan. Karena itu, sinergi antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat perlu diperkuat,” jelasnya.
Aspek keberlanjutan lingkungan juga menjadi perhatian akademisi ini. Dia mengingatkan bahwa transformasi Indonesia dari pengekspor bahan baku mentah menjadi negara industri harus mempertimbangkan pengelolaan lingkungan dan efisiensi energi agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang oleh generasi mendatang.
Sumber: Republika
Baca Juga

Brand Lokal Butuh Inovasi dan Platform Digital untuk Rebut Pasar yang Lebih Luas

Temukatsu Resto Tawarkan All You Can Eat Nusantara di Nemuru Hotel Ciputat

IPLT Madurejo Harus Perbaiki Proses Pengolahan Setelah Ditemukan Logam Berat

