Pabrik Amonia Pupuk Kaltim Lebih Hemat Energi, Proyeksi Penghematan Tembus Rp228 Miliar Setahun

Pabrik Amonia Pupuk Kaltim Lebih Hemat Energi, Proyeksi Penghematan Tembus Rp228 Miliar Setahun

PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) berhasil memangkas konsumsi energi pabrik amonianya secara signifikan setelah menjalani modernisasi besar-besaran. Hasilnya bukan sekadar angka teknis — efisiensi ini ditaksir bisa menghemat biaya produksi hingga Rp228 miliar per tahun.

Pabrik yang dimodernisasi adalah Ammonia Pabrik-2, unit produksi yang sudah beroperasi sejak 1984. Pembaruan dilakukan bersama Casale SA, perusahaan teknologi pabrik kimia asal Swiss yang berdiri sejak 1921. Pendekatannya adalah revamping — memperbarui teknologi dan peralatan tanpa harus membangun pabrik baru dari nol.

Uji kinerja berlangsung selama tujuh hari penuh pada Agustus 2026, tanpa menghentikan operasi pabrik sama sekali. Hasilnya, konsumsi energi turun dari 39,28 menjadi 35,25 MMBTU per ton amonia — melampaui target penghematan minimal yang sudah disepakati kedua pihak.

Direktur Utama Pupuk Kaltim Rafli Yandra menjelaskan dampak langsungnya: “Berdasarkan hasil tersebut, peningkatan efisiensi ini diproyeksikan menghasilkan penghematan biaya produksi hingga 14,3 juta dolar AS atau sekitar Rp228 miliar per tahun.” Gas bumi yang dipakai sebagai bahan baku sekaligus sumber energi utama menjadi faktor kunci di balik penghematan tersebut.

Selain efisiensi energi, kapasitas produksi harian juga naik 4,18 persen. Rata-rata produksi amonia meningkat dari 1.767 ton menjadi 1.841 ton per hari. Tambahan produksi ini diharapkan memperkuat pasokan amonia sebagai bahan baku pembuatan urea — yang pada akhirnya berujung pada ketersediaan pupuk bagi petani.

Keberhasilan proyek ini dikukuhkan lewat penandatanganan deklarasi bersama antara Direktur Operasi Pupuk Kaltim Teguh Ismartono dan CEO Casale SA Federico Zardi di Lugano, Swiss. Bagi industri pupuk nasional, pencapaian ini menjadi bukti bahwa modernisasi pabrik lama bisa jadi langkah strategis yang jauh lebih efisien dibanding membangun unit produksi baru.

Sumber: Republika

Baca Juga

Scroll to Top