
Wakil Menteri Pertanian Muhammad Saleh Mustafa menekankan bahwa pertanian yang mandiri memerlukan dua pilar utama: meningkatkan produksi pangan dalam negeri dan memperbaiki cara perdagangannya. Menurut dia, kedua hal ini harus berjalan bersamaan agar petani dan konsumen sama-sama merasakan manfaatnya.
Indonesia telah mencapai kemandirian pangan pada delapan dari 12 kelompok komoditas pokok dalam dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo-Gibran. Namun, masih ada empat komoditas yang produksinya belum sepenuhnya independen: kedelai, bawang putih, susu sapi, dan daging sapi.
Meski produksi melimpah, hal itu tidak secara otomatis meningkatkan penghasilan petani jika sistem perdagangan tidak berjalan dengan sehat dan harga di tingkat petani tidak menguntungkan. Saleh mengatakan bahwa “kita harus jadi tengkulak budiman, yang menyelesaikan masalah tanpa meninggalkan masalah”—maksudnya, perantara atau tengkulak harus membantu menghubungkan petani dengan pasar tanpa merugikan pihak manapun.
Untuk mewujudkan tata niaga pangan yang sehat, Saleh menekankan perlunya regulasi yang kuat disertai pengawasan dan penegakan hukum yang tepat sasaran. Penindakan harus mengarah pada mereka yang mengorganisir praktik melanggar aturan, bukan sekadar menangkap pelaku di lapangan, agar bisa menyentuh akar permasalahan.
Pemerintah juga perlu menjaga keseimbangan antara perlindungan petani, lancarnya distribusi, keberlangsungan usaha, dan harga pangan yang terjangkau bagi masyarakat. Dengan kolaborasi kompak antara pemerintah, petani, pelaku usaha, dan masyarakat, Saleh yakin sektor pertanian dapat menjadi penggerak kesejahteraan yang berkelanjutan bagi Indonesia.
Sumber: Antara News
Baca Juga

Jalan Penghubung Gayo Lues Kembali Bisa Dilalui Setelah Banjir Bandang

Drone Lokal Baru Capai 66% Komponen Dalam Negeri, Baterai Masih Andalkan Impor

Sultra Jadi Fokus Pembangunan 169 Kampung Nelayan, KKP Mulai Verifikasi Kelayakan Lokasi

