Potensi Panas Bumi Indonesia Baru Terpakai 11 Persen, Pakar Dorong Percepatan Eksplorasi

Potensi Panas Bumi Indonesia Baru Terpakai 11 Persen, Pakar Dorong Percepatan Eksplorasi

Indonesia memiliki sumber energi panas bumi yang sangat besar namun masih belum dimanfaatkan secara maksimal. Menurut data Kementerian ESDM, potensi panas bumi nasional mencapai 24 gigawatt (GW) yang tersebar di 368 lokasi, tetapi baru 2.776 megawatt (MW) yang sudah dibangun sebagai pembangkit listrik, atau hanya sekitar 11,6 persen dari total potensi.

Fahmy Radhi, pakar ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada, mengatakan kesenjangan besar ini menjadi peluang sekaligus tantangan bagi Indonesia. Masih ada sekitar 88 persen potensi panas bumi yang bisa dioptimalkan sebagai sumber energi di masa depan.

“Potensi panas bumi kita masih cukup besar, tetapi belum dieksplorasi secara optimal. Ini tantangan,” ujar Fahmy. Ia menekankan bahwa pengembangan energi terbarukan tidak hanya soal menambah ragam sumber, tetapi juga tentang keberanian pemerintah untuk menetapkan prioritas yang jelas dan berkelanjutan.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025-2034 menargetkan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 GW, dengan 42,6 GW berasal dari energi terbarukan dan panas bumi ditargetkan berkontribusi 5,2 GW. Perusahaan energi seperti PT Pertamina Geothermal Energy (PGEO) saat ini mengelola 70 persen kapasitas panas bumi nasional dengan target meningkatkan kapasitas sendiri menjadi 1,8 GW pada 2034.

Memasuki abad kedua sejak pengeboran panas bumi pertama di Kamojang, Jawa Barat pada 1926, Fahmy menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, perusahaan energi, dan investor. “Pengembangan EBT merupakan satu keharusan yang harus segera dilakukan secara terus-menerus,” kata Fahmy. Tanpa langkah konkret dan terkoordinasi, potensi besar ini tidak akan terwujud menjadi kenyataan energi yang mandiri bagi negara.

Sumber: Antara News

Baca Juga

Scroll to Top