Nilai tukar rupiah kembali jatuh ke level yang bikin was-was. Pada Selasa (29/7/2026) sekitar pukul 11.20 WIB, rupiah tercatat melemah 26 poin atau sekitar 0,14 persen ke posisi Rp 18.004 per dolar AS — menembus lagi level psikologis Rp 18 ribu yang sempat jadi perhatian pasar.
Bank Indonesia (BI) buka suara soal penyebabnya. Menurut Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, ada beberapa faktor yang saling bertautan. “Pelemahan nilai tukar dipengaruhi oleh berlanjutnya kekhawatiran atas tekanan inflasi global dan risiko fiskal, sejalan dengan kenaikan harga minyak hingga di atas 108 dolar AS per barel di tengah belum tercapainya kesepakatan terkait pembukaan Selat Hormuz,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Lonjakan harga minyak itu memicu ekspektasi bahwa Amerika Serikat akan semakin ketat dalam kebijakan moneternya — artinya suku bunga AS berpotensi naik lagi. Akibatnya, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun melonjak ke 5,23 persen, level tertinggi sejak 2007. Ketika imbal hasil obligasi AS naik, investor cenderung menarik dananya dari negara berkembang seperti Indonesia, dan itu turut menekan rupiah.
Selain faktor global, ada juga tekanan dari dalam negeri. Kebutuhan dolar dari para importir menjelang akhir kuartal III turut mendorong permintaan valas yang membuat rupiah makin tertekan. Namun BI menegaskan situasi ini masih terkendali.
“Secara umum, pergerakan rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang kawasan (regional), dengan pelemahan terbatas secara quarter-to-date (qtd) sebesar 0,67 persen. Cadangan devisa tercatat meningkat ke level 146,5 miliar dolar AS pada akhir Agustus 2026,” kata Erwin. BI juga memastikan akan melakukan langkah-langkah intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar ke depan.
Sumber: Republika
Baca Juga

Ekonom Pesimis Target Pertumbuhan 6 Persen Bisa Dicapai di 2027

Galeri Investasi UYM Sabet Penghargaan BEI, Mahasiswa Didorong Melek Investasi

Kemenhub Kejar KAI Selesaikan 35 Trainset KRL Jabodetabek, Masih Kurang 8 Rangkaian

